Web Developer

Wajah baru Helios

Tech Stack:
Wajah baru Helios

Hai semua, selamat datang pada post pertama saya. Pada kali ini, kita akan membahas wajah baru dari Helios, sebuah portofolio pribadi yang dibangun dengan teknologi berbeda dibanding versi sebelumnya. Sebelum itu, saya ingin terima kasih kepada hendraaagil.dev dan dribbble.com untuk ide desain portfolio, berkat kalian saya bisa membangun website ini dengan versi yang lebih baik. Mari kita beralih ke wajah baru Helios, pasti kalian akan bertanya tentang "Apa yang baru dari website ini". Haha tenang, saya akan menjelaskan semuanya, versi terbaru lebih mengedepankan tentang desain yang lebih simple, teknologi yang digunakan, dan Content Management System (CMS). Pasti sebagian dari kalian akan bertanya, "Hah, CMS? Kenapa Pakai CMS? atau web ini sudah bisa CMS?", dan jawaban saya "Ya, Bisa", kenapa? Karena tujuan saya memperbarui portofolio adalah untuk penulisan artikel dan konten projek yang telah dikerjakan tanpa saya harus coding ulang, mungkin karena saya malas mengerjakan sesuatu yang repetitif seperti coding berulang kali, akhirnya saya menggunakan CMS saja.

Mari kita beralih ke teknologi yang digunakan pada website versi lama dengan versi baru kali ini, dari situ sudah menjelaskan kenapa harus berpindah ke teknologi terbaru.

Versi Lama

  1. HTML
  2. CSS
  3. Bootstrap 5.

Versi Baru

  1. HTML
  2. Tailwindcss
  3. Javascript
  4. Python
  5. Flask
  6. SQLite3 (Lokal) / Neon DB (Production)

Nah, dari situ kita bisa tahu apa perbedaannya dan kenapa harus beralih ke teknologi terbaru. Versi lama memang sudah cukup bagi saya jika hanya membangun static website dan landing page sederhana, namun jika saya ingin menambah konten pasti akan kesusahan dalam management file. Pada versi lama, saya memiliki section Project, dimana ketika saya membuat satu project baru secara otomatis harus membuat file baru untuk menampung isi dari konten, dengan kata lain saya harus mengulang proses itu berulang kali. Sebagian dari kalian pasti akan berkata "Pakai Bootstrap 5 dengan backend Python dan Flask bisa kan bang?", kalian benar, saya sempat berfikir bahwa daripada harus menggunakan tailwindcss lebih baik pakai yang sudah jalan. Tapi kenyataannya tidak, bootstrap sangat bagus jika kita ingin membangun website dengan cepat karena menerapkan prinsip component base, namun memiliki kekurangan jika kita punya styling ala kita sendiri. Kita harus membuat dua file style terpisah, yaitu adalah utilities.css (tempat menyimpan utilities) dan style.css (style utama), jika saya ingin membuat style sendiri saya harus menambahkan di dua tempat sekaligus, dari situ saya berfikir tidak bisa menggunakan bootstrap dan akhirnya beralih ke tailwindcss karena lebih simple.

Alasan juga memakai framework web yang sederhana seperti Flask daripada Laravel, Next.js, atau framework besar lainnya adalah karena tidak ingin overkill dalam pembuatannya. Saya lebih terbiasa dengan bahasa python karena bahasa nya yang simple dan sederhana, selain itu management file sangat rapi karena didukung oleh Jinja2 sebagai template machine, jadi kita bisa menggunakan perkondisian, looping, dan bahkan pembuatan component untuk menerapakan prinsip DRY (Don't Repeat Yourself). Flask ternyata juga mendukung Flask-Admin (untuk management content) dan Flask-Migrate (Seperti Laravel Migrate), sehingga saya lebih mudah dalam pembuatan database dan pembuatan kontennya.

Kesimpulan.

Pembuatan website ini ditujukan untuk membuat style yang sesuai dengan saya sehingga meningkatkan UX dari penggun, selain itu CMS membantu saya untuk manage isi konten sehingga tidak perlu lagi coding secara langsung. Jika kalian tertarik untuk menggunakan template ini, mungkin saya akan berikan konten kosong yang siap untuk anda gunakan. Mungkin itu yang bisa saya ceritakan tentang post pertama saya, jika kalian menyukainya kalian bisa cek github repository untuk website portofolio dan jangan lupa star ya.

Thank you and see you next time.